Rabu 20 Agustus 2025, delapan dusun yang ada di Desa Majingklak serentak menggelar acara adat yang disebut "Bada Kupat" bertepatan dengan hari rabu wekasan atau hari rabu terakhir di bulan safar.
Rebo Wekasan diyakini sebagai hari penuh ujian, sehingga masyarakat desa Majingklak menggelar doa bersama, sedekah, dan ritual tolak bala pada Rabu terakhir bulan Safar tersebut untuk memohon keselamatan dan perlindungan dari bencana kepada Allah SWT.
Sebagian ulama tasawuf klasik menyebut, pada hari Rabu terakhir bulan Safar "turun" berbagai bala atau musibah. Misalnya, Syekh Abdul Hamid Quds menuliskan angka 320.000 bala sebagai peringatan simbolis, yaitu dunia ini tak lepas dari bahaya, dan manusia perlu perlindungan Ilahi.
Bada Kupat Rebo Wekasan adalah contoh indah akulturasi Budaya lokal dan Islam. Ia bukan sekadar hari ritual, tetapi cermin cara masyarakat mengubah ketakutan menjadi kekuatan spiritual lewat doa dan tawakal, dan kekuatan sosial lewat gotong-royong dan solidaritas.
Tradisi ini mengajarkan bahwa bala tidak diusir dengan rasa takut, melainkan dihadapi dengan iman, amal, dan kebersamaan. Dalam ketidakpastian hidup, Rebo Wekasan menjadi pengingat: hari apa pun bisa menjadi baik, jika diisi dengan kebaikan.